PENYEBAB AUTISME

Etiologi Autisma
Menurut Baron dkk pada literaturnya : Autism, The Facts, terbitan tahun 1994, ada dua teori yang melandasi penyebab terjadinya Autism Spektrum Disorders (ASDs). Teori psikogenik meyakini bahwa cara pengasuhan yang buruk menyebabkan autisma pada anak-anak. Dalam teori ini anak harus dipisahkan dari orang tua atau pengasuhnya untuk keperluan terapi si anak. Teori ini rupanya tidak mendapat banyak memperoleh dukungan dari para ahli akibat kurangnya bukti-bukti yang ada.

Teori yang kedua, teori biologik mengatakan bahwa ada suatu abnormalitas pada otak penyandang ASDs. Lokasi kelainan bisa berbeda-beda tiap penyandang, namun diyakini ada tiga lokasi yang salah satu atau lebih menyebabkan terjadinya ASDs. Dari penelitian yang dilakukan oleh para pakar kelainan tersebut terdapat pada lobus parientalis, cerebellum (otak kecil) dan sistem limbik.

Sebanyak 43 % penyandang ASDs mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan anak cuek terhadap lingkungannya (Handojo, 2003). Kelainan pada otak kecil, terutama lobus VI dan VII menyebabkan turunnya daya ingat, berpikir, belajar berbahasa dan proses atensi. Kurangnya jumlah sel purkinye di otak kecil  menyebabkan terjadinya gangguan serotonin dan dopamin. Akibatnya terjadi kekacauan penghantaran impuls di otak.

Hyppocampus dan amygdala pada sistem limbik yang mengalami kelainan menyebabkan anak menjadi kurang dapat mengontrol emosi, seringkali terlalu agresif dan sangat pasif. Fungsi belajar dan daya ingat juga terganggu bila amygdala mengalami kerusakan.

Diyakini kelainan-kelainan tersebut terjadi pada fase pembentukan organ-organ, yaitu pada usia kehamilan trimester pertama, dimana otak baru mulai terbentuk pada usia kehamilan 15 minggu. Gangguan pada proses pembentukan tersebut belum dapat dipastikan penyebabnya, bisa karena penyebab prenatal, misalnya infeksi virus dan jamur (toksoplasmosis, rubella, candida, dan lain-lain), logam berat (Pb, Al, Hg, Cd), zat aditif (MSG, pengawet, pewarna), obat-obatan, jamu peluntur, bahkan hiperemesis.

Faktor genetika memang ditengarai sebagai salah satu penyebab, namun tidak selalu pada kromosom yang sama (Handojo, 2003). Pada beberapa data ditemukan bahwa penyandang autisma memiliki kondisi genetik berupa Fragile X Syndroma, Phenylketonuria, Tuberous Sclerosis, Neurofibromatosis dll (Baron, 1994).

Proses kelahiran yang lama juga dapat menjadi pemicu autisma karena mengakibatkan gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin, pemakaian forcep, dll (Handojo, 2003). Bahkan faktor-faktor pada post parfum dapat pula memicu autisma, infeksi ringan sampai berat pada bayi, imunisasi MMR dan hepatitis B (mengenai dua jenis imunisasi ini masih kontroversial), logam berat, bahkan protein susu sapi dan tepung terigu. Semua penyebab tersebut belum dapat dipastikan sehingga mengakibatkan penanganan ASDs tidak lagi sesederhana seperti diperkirakan semula.

Pola Perkembangan
Beberapa anak yang mengalami ASDs menunjukkan tanda kekurangannya pada usia kurang dari satu tahun. Lainnya muncul saat usia menginjak dua tahun keatas. Pada suatu studi didapatkan bahwa sepertiga sampai setengah orang tua dari anak tersebut menyadari keterbatasan anaknya sebelum usia satu tahun, dan hampir 80 % sampai dengan 90 % meyakini problem tersebut saat anaknya berusia lebih dari dua tahun. Beberapa anak tersebut menunjukkan perkembangan yang normal hingga 18 – 24 bulan kemudian berhenti belajar bahasa dan bersosialisasi, atau bahkan kehilangan kemampuan yang mereka miliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: