QUANTUM TEACHING

Saat ini, kita mengenal istilah Quantum Teaching atau diindonesiakan menjadi pembelajaran kuantum, yaitu suatu metode pembelajaran yang mengintegrasikan semua unsur yang terkait dalam proses pembelajaran, baik pengajar, materi, lingkungan maupun peserta didik, sedemikian rupa sehingga tercipta suatu atmosfir yang kondusif dalam mencapai tujuan pengajaran melalui proses yang efisien.
Pembelajaran kuantum tersebut bisa dicapai bila pihak manajemen sekolah khususnya kepala sekolah sebagai manajer dan juga para guru memiliki berbagai hal yang berkait di bawah ini yaitu: Memahami prinsip-prinsip cara kerja otak dalam menangkap dan memproses informasi; Memiliki wawasan tentang faktor-faktor keunggulan manusia; Memahami prinsip-prinsip Pembelajaran Kuantum; Mampu mengelola lingkungan pembelajaran untuk mendukung proses Pembelajaran Kuantum; Memiliki daya kreativitas dalam menyampaikan proses pembelajaran; Mampu memotivasi siswa dalam proses pembelajaran.
Pimpinan sekolah diharapkan memiliki kemampuan untuk mendesain dan merancang metode pembelajaran yang sesuai dengan paradigma multikultural di Indonesia, pengelolaan situasi pembelajaran ditambah dengan kemampuan memompa kreativitas guru dalam proses pembelajaran. Sekaligus mampu memotivasi siswa untuk belajar dan berkarya sesuai dengan kemampuannya.

Mengenali Organ Canggih Manusia
Sebagaimana telah disebutkan dimuka bahwa pembelajaran kuantum tersebut bisa dicapai bila semua pihak yang terlibat di dalam pendidikan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas dan integratif terkait prinsip-prinsip cara kerja otak manusia dalam menangkap dan memproses informasi, maka pada kesempatan kali ini kami ingin memfokuskan hal tersebut secara ringkas.
Otak manusia diakui sebagai struktur biologi yang paling canggih yang dikenal di manapun di bumi. Terletak di dalam tengkorak, otak merupakan organ terlindung paling baik di seluruh tubuh Anda dan menikmati prioritas tertinggi dalam hal pembagian darah, oksigen, dan zat-zat hara. Otak ini melayang dalam medium zat cair yang bersirkulasi dan betul-betul mengapung di dalam sebuah cangkang tahan guncang.
Paul Thomas dalam Advanced Psycho Cybernetics and Psychofeedback menjelaskan bahwa otak manusia sangat padat. Beratnya hanya sekitar 1400 gram untuk pria dewasa dan 1275 untuk wanita. Otak hanya membutuhkan 1/10 volt listrik untuk dapat bekerja efisien, namun otak terdiri dari puluhan miliar sel saraf.
Otak membuat komputer paling canggih pun jauh ketinggalan dalam hal kemampuannya yang betul-betul menakjubkan. Jaringan interkoneksi (yang disebut sinaps-sinaps) antara milyaran sel-sel saraf (neuron) di otak secara potensial sanggup memproses kepingan informasi dengan cara-cara yang jumlahnya setara dengan 2 sampai 10 pangkat 13. Ini merupakan angka yang jauh lebih besar daripada jumlah seluruh atom di alam semesta. Namun otak manusia demikian rapi susunannya sehingga bahkan untuk mendekati kemampuan semacam itu, sebuah komputer modern sekurang-kurangnya harus 10.000 kali lebih besar daripada rata-rata otak.
Fungsi utama otak adalah mengendalikan semua kerja tubuh dan merancang tubuh itu sendiri. Bagian bawah struktur, dikenal sebagai batang otak, bersatu dengan sumsum tulang belakang untuk membentuk sistem saraf pusat, yang berhubungan dengan semua bagian tubuh. Maka setiap kegiatan otak akan mempengaruhi setiap sel dalam tubuh baik langsung maupun tidak langsung, melalui jaringan syaraf luas yang ada di seluruh jaringan tubuh.
Dalam konteks pengembangan pendidikan, yang perlu diketengahkan adalah pembagian otak menjadi dua yaitu bagian sadar dan bagian tidak sadar.
Bagian otak sadar adalah kemampuan rasional, obyektif, membeda-bedakan. Perannya ialah menampung informasi dari pengamalan sehari-hari. Menentukan apakah informasi itu bermakna atau tidak, dan mengambil keputusan. Bagian yang sadar selalu membuat keputusan menerima atau menolak informasi yang datang. Masing-masing informasi yang diterima bagian sadar selanjutnya diterima bagian tidak sadar pula sebagai sesuatu yang diyakini benar, sebagai fakta dan kenyataan. Maka bila kita menerima gagasan bahwa kita gagal, maka bagian tidak sadar akan menyetujui keyakinan tersebut dan bertindak mewujudkannya.
Bagian tidak sadar ini mirip database di komputer. Yang berfungsi menyimpan dan mengambil lagi data yang berkaitan dengan setiap pengalaman, gagasan, gambaran atau ide. Bagian tidak sadar selalu bekerja untuk membuat setiap perkataan dan tindakan sesuai dengan sebuah pola yang konsisten dengan pemrograman sadar sebelumnya.
Bagian tidak sadar menjamin agar kita tetap setia kepada citra yang kita miliki tentang diri (cara berjalan, berbicara, berpikir, bertindak) dengan cara yang konsisten dengan informasi yang telah diterima oleh bagian sadar sebagai hal yang mewakili Anda sesungguhnya.
Kunci sukses oleh karena itu terletak pada pengendalian apa yang dipikirkan sebab seseorang selalu akan memperoleh apa yang terus menerus dikatakan kepada pikiran mereka bahwa kita menginginkannya. Logikanya, bila Anda membuat pikiran sadar Anda terpancang pada apa yang Anda inginkan dan bukan pada apa yang Anda hindari, maka ini akan berkembang dalam pengalaman.
Sukses oleh karena itu hanya terjadi kalau kita secara sistematis mengendalikan pikiran-pikiran yang kita bolehkan untuk mengisi pikiran sadar dari detik ke detik. Sukses akan berhasil diraih bila kita memusatkan perhatian pada pikiran-pikiran positif serta menggunakan kata-kata dan tindakan untuk mengungkapkannya.
Proses pikiran sadar mencakup empat langkah (1) pencerapan indera (2) asosiasi (3) evaluasi dan (4) keputusan. Semua proses ini berlangsung dalam sepersekian detik. Yang perlu dicatat dalam proses ini, tingkah laku bukanlah sekedar fungsi dari apa yang sedang berlangsung. Tingkah laku bergantung pada (1) Rancangan yang dibiarkan memasuki kesadaran, dan (2) database di ingatan. Bila sebuah pengalaman serupa di masa lalu menimbulkan keputusan tertentu, maka kita akan menanggapi dengan cara yang sama saat pengalaman itu muncul lagi saat ini.
Kumpulan data masa lalu itu disebut sistem keyakinan yang berfungsi sebagai kerangka berpikir sewaktu kita mengalami hal-hal baru dalam hidup dan merupakan keseluruhan program yang harus dijalani otak. Sistem keyakinan ini pada umumnya tidak lengkap dan tidak dapat diandalkan. Maka, diperlukan kegigihan untuk mencari peluang untuk membetulkan keyakinan-keyakinan dengan memutakhirkan kenyataan model mental. Sebab yang kita lihat hanyalah interpretasi otak kita terhadap apa yang sesungguhnya terjadi. Memang, kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Pendidikan adalah Pembiasaan Otogenik
Dari perspektif neuroscience, pendidikan jelas merupakan sebuah bentuk pemrograman otak apakah itu otak sadar maupun tidak sadar. Baik yang disengaja maupun tidak. Perlu digarisbawahi, bahwa pemrograman bawah sadar lebih sukses bila kita menyadari suasana dan kondisi yang tepat. Yaitu saat otak berada dalam gelombang yang tepat.
Memahami frekuensi atau gelombang otak dalam dunia medis diperiksa, dimonitor dengan mempergunakan peralatan, yang disebut EEG atau electroencephalogram dan juga Brain Mapping. Perbedaannya adalah bahwa Brain Mapping hanya memeriksa secara fisik gangguan, kerusakan atau kecacatan otak (pusat syaraf) tersebut, misalkan tumor (kanker) otak, pecahnya pembulu darah otak (struck), benturan pada kepala dan seterusnya.
Sedangkan EEG (electroencephalogram) bisa memonitor dan merekam getaran, frekwensi, sinyal atau GELOMBANG otaknya, yang kemudian di-“klasifikasi” kan kedalam beberapa kondisi kesadaran, bawah sadar, keadaan tidur atau mimpi dan seterusnya
Getaran atau frekwensi adalah jumlah pulsa (impuls) perdetik dengan satuan hz (khz atau Mhz). Berdasarkan riset, getaran/frekwensi otak berbeda untuk setiap fase (sadar, tidur ringan, tidur lelap/nyenyak, panik, konsentrasi tinggi dan seterusnya), sehingga para ahli syaraf membuat suatu klasifikasi gelombang otak sebagai berikut :

GAMMA wave ( 16 hz ~ 100 hz )
Adalah frekuensi otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami “aktifitas mental yang sangat tinggi”, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, “nerveus”, kondisi ini dalam kesadaran penuh.

BETA wave ( diatas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz )
Adalah getaran otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang sadar penuh dan normal aktif, konsentrasi penuh dan dapat dibagi pula menjadi 3 kelompok, yaitu highbeta ( 19 Hz + ) yang overlap/transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta ( 15 hz ~ 18 hz ), juga overlap/transisi dengan getaran gamma, selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz).

ALPHA wave ( 8 hz ~ 12 hz )
Adalah gelombang pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami “releksasi” atau mulai istirahat dengan tanda2 mata mulai menutup atau mulai mengantuk, atau suatu fase dari keadaan sadar menjadi tak sadar (atau bawah sadar), namun tetap sadar (walaupun kelopak mata tertutup). Inilah saat yang tepat untuk melakukan pemrograman.
Frekwensi alpha 8 ~ 12 hz, merupakan frekwensi pengendali, penghubung dan melakukan aktifitas yang berpusat di sel-sel thalamic otak. Frekwensi alpha, 8 hz merupakan fase dan pintu masuk (gate away) dari keadaan sadar menjadi tak sadar (bawah sadar) dan pintu masuk ke fase gelombang Theta (4 hz ~ 8 hz ). Biasanya kondisi di tingkatan ini tidak berlangsung lama dibanding dengan tingkatan lainnya ( gamma, beta, theta dan delta wave), namun merupakan bagian penting terutama bagi penderita ADHD , pada saat melakukan latihan-latihan dan pengobatan neurotherapy atau neurofeedback.

THETA wave ( 4 hz ~ 8 hz )
Adalah getaran otak yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami keadaan tidak sadar atau tidur sangat mengantuk. Nafas melambat, dalam dan panjang, dibandingkan biasanya. Jika dalam keadaan sadar (tidak tidur), kondisi ini masuk ke fase atau dibawah pengaruh hipnosis.
Dalam kondisi yang sadar (tidak tidur dan tidak dibawah pengaruh hipnotis atau epilepsi), seorang anak yang normal ( < 12 th) masih dapat memiliki getaran frekwensi theta, akan hilang sedikit demi sedikit setelah menjelang dewasa (kecuali pada saat menjelang tidur)
Seorang anak (terutama bayi dan balita), rata-rata tidur lebih dari 12 jam setiap harinya, sehingga pada pusat syarafnya (otak) lebih banyak masuk dalam fase gelombang theta dan gelombang delta daripada gelombang beta dan alpha, sehingga dalam kehidupan nyata sehari-harinya, lebih banyak cara berpikir yang dianggap tidak masuk akal (berkhayal seperti bermimpi walaupun dalam kondisi sadar) dan sedikit demi sedikit akan berubah setelah menjelang remaja/dewasa. Anak INDIGO ( anak super cerdas dan memiliki indra ke-enam / ESP /Extra sensory perception), juga termasuk yang mudah memasuki fase gelombang theta yang cukup lama dan dapat permanen.
Sedangkan dalam kondisi tidur normal, seseorang akan memasuki fase gelombang theta, walaupun hanya sebentar terutama secara periodik akan berpindah/bergeser ke-gelombang delta dan kembali ke theta berkali-kali diikuti getaran pelopak mata yang dikenal dengan REM ( rapid eyes movement ) dan Non REM atau NREM ( non rapid eyes movement ) selama tidur normal 7 ~ 8 jam perhari.

DELTA wave ( 0.5 hz ~ 4 hz )
Adalah getaran otak yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, biasanya < 3 hz, yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami “ keadaan tidur sangat lelap” atau anak dibawah usia 13 th ketika dalam keadaan sadar penuh. Dalam keadaan normal, seorang dewasa memasuki gelombang delta pada saat tidur nyenyak malam hari.
Orang yang menderita atau gangguan otak (fisik, benturan otak, pendarahan otak dan koma), maka fase getaran yang terjadi akan didominasi oleh gelombang delta.
Penemuan baru dibidang frekwensi dan gelombang otak manusia oleh Dr. Jeffrey D. Thompson, D.C., B.F.A . ,dari Neuroacoustic research, bahwa masih ada gelombang dan frekwensi lain dibawah delta, atau dibawah 0.5 hz, yaitu frekwensi EPSILON, yang juga sangat mempengaruhi aktifitas mental seseorang seperti pada gelombang theta diatas.
Memprogram ulang pikiran dengan demikian adalah upaya mengubah apa yang telah dimasukkan ke dalam ingatan dengan menggunakan pembiasaan otogenik. (Otogenik: dibangkitkan sendiri). Pembiasaan otogenik adalah terus menerus mengulangi sebuah pernyataan positif (afirmasi/induksi) saat berada dalam keadaan relaksasi progresif ketika otak berada dalam gelombang alpha. Teknik ini memadukan dengan visualisasi yang berhubungan, yaitu representasi.
Setidaknya ada tiga unsur pokok untuk pemrograman otak ini yaitu mengatakan (afirmasi), mengkhayalkan (visualisasi) dan merasakan. Untuk memperkuat afirmnasi, digunakan jangkar khusus, misalnya dengan kepalan dan mengulangi kata “SAYA BISA!!!” terus menerus dengan cara yang tegas dan mantap.
Perhatikan contoh afirmasi berikut: “SAAT INI SAYA SUKSES BELAJAR,”
Perhatikan tiga hal mengenai pernyataan ini: (1). Menggunakan kata ganti pertama “Saya” (2). Mengenai masa sekarang, sebab alam bawah sadar hanya dapat berhubungan dengan dengan saat sekarang dan (3) pernyataan bersifat positif dan tidak negatif. Alam bawah sadar tidak bisa mengingat sebuah pesan negasi misalnya, “Saya tidak gagal.” Yang bisa diingat adalah kata “Saya sukses” atau “Saya gagal.”
Ada ratusan variasi pemrograman ulang pikiran yang bisa dipraktekkan di sebuah kelas. Berikut satu contoh bila kita ingin mengawali pelajaran yang sulit seperti Matematika:
Pertama, Posisi. Murid diminta duduk santai, tenang dengan mata terpejam. Guru membaca sebuah teknik visualisasi sebagai berikut: “Bayangkan kamu berada pada suasana yang menyenangkan dan kamu sangat senang. Ini akan menjadi pengalaman tertinggi meraih kebahagiaan mental. Kenang peristiwa masa lalu saat Anda merasakan kebahagiaan puncak. Kini bayangkan bagaimana kami berdiri, bernafas dan tampil dalam kebahagiaan ini”
Selanjutnya guru memerintahkan para murid yang bertujuan mensugesti mereka bahwa pelajaran Matematika itu mudah. Guru berkata: “Kepalkan tanganmu dengan kuat tegas meyakinkan. Ayo ucapkan, “SAYA BISA MATEMATIKA!!!”
Dengan teknik ini, para guru telah menanamkan keadaan mental yang positif dalam alam bawah sadar murid dan murid bisa mengingatnya kembali dalam keadaan genting seperti cemas, bingung menghadapi ujian Matematika dan sebagainya.

Pendidikan sebagai Transfer energi Informasi
Sudah sejak lama ilmu-ilmu kemanusiaan tidak terkecuali Psikologi mengkaji tentang apa, bagaimana dan kenapa jiwa merupakan sumber kekuatan sekaligus lemahnya seseorang. Orang yang jiwanya lemah, akan tampil sebagai sosok yang lemah. Sedangkan orang yang berjiwa kuat akan tampil sebagai sosok yang ‘kuat’ pula. Tentu saja, bukan sekadar dalam arti fisik. Melainkan ‘kekuatan’ pribadinya dalam menghadapi gelombang kehidupan.
Pemimpin (Baca: Kepala Sekolah) yang memiliki jiwa kuat, bukan hanya berpengaruh pada keteguhan pribadinya, melainkan bisa digunakan untuk mempengaruhi lingkungan sekolah secara luas baik itu para guru maupun para murid dan juga orang di sekitarnya.
Kita bisa melihat betapa besarnya energi yang dipancarkan Bung Karno. Ia bisa mempengaruhi ribuan orang hanya dengan kata-katanya. Ribuan orang terpesona dan rela berpanas-panas, berdesak-desakan, atau berjuang dan berkorban, mengikuti apa yang dia pidatokan.
Atau, lebih dahsyat lagi, adalah kekuatan yang terpancar dari jiwa para nabi dan rasul. Keteladanan dan risalah yang beliau bawa telah mampu menggetarkan satu setengah miliar umat di seluruh penjuru planet bumi ini untuk mengikutinya. Bahkan terus berkembang, selama hampir 1500 tahun terakhir. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Dan darimana serta dengan cara apa kekuatan yang demikian dahsyat itu terpancar? Semua itu ada kaitannya dengan kekuatan jiwa yang terpancar dari seseorang. Dengan mekanisme otak sebagai pintu keluar masuknya.
Mempelajari aktivitas otak, berarti juga mempelajari aktivitas perasaan atau emosi. Jiwa adalah program-program istimewa yang dimasukkan ke dalam sel-sel otak. Dan program-program itu lantas berkolaborasi membentuk suatu sistem di dalam organ otak. Karena itu, setiap apa yang dihasilkan otak adalah pancaran dari aktivitas Jiwa kita.
Bagaimana memahaminya? Banyak cara. Di antaranya dengan memahami produk-produk otak sebagai organ pemikir. Kalau kita membaca karya seseorang, baik berupa karya tulis, musik, pidato, atau karya-karya seni dan ilmu pengetahuan lainnya, kita sedang memahami pancaran jiwa seseorang.
Di dalam karya itu terkandung energi, yang tersimpan di dalam maknanya. Untuk bisa merasakan energi tersebut tentu kita harus menggunakan jiwa untuk memahaminya. Jika kita sekadar menggunakan panca indera terhadap suatu karya, tapi hati kita tidak ikut dalam proses pemahaman itu, tentu kita tidak bisa merasakan besarnya energi yang terpancar. Karya itu tidak lebih hanya sebagai seonggok benda mati. Tapi, begitu kita melibatkan hati dan jiwa, tiba-tiba karya itu menjadi hidup dan bermakna.
Yang demikian itu bisa terjadi pada pemahaman apa saja. Setiap kali kita ingin menangkap makna, maka kita harus melibatkan hati dan Jiwa. Hati adalah sensor penerima getaran universal di dalam diri seseorang.
Kecerdasan spiritual salah satu tolok ukurnya adalah bagaimana seseorang itu mampu memaknai semua hal termasuk pergelaran alam semesta, keberadaan diri dan juga benda-benda ini secara kombinatif. Artinya, kombinasi antara panca indera dan hati akan menyebabkan kita bisa melakukan pemahaman.
Di situlah jiwa bekerja sebagai mekanisme kompleks dari seluruh rangkaian software yang ada di sel-sel otak. Jadi, otak memancarkan gelombang energi yang tersimpan di dalam maknanya. Makna itu sendiri sebenarnya bukanlah energi, meskipun ia mengandung energi. Makna juga bukan materi.
Sebagai contoh, wajah tersenyum yang terpancar di wajah para pemimpin bisa ditransfer kepada orang lain, sehingga memunculkan energi tertentu. Jika anda sedang merasa gembira, kemudian menceritakan kegembiraan itu kepada orang dekat anda, maka orang itu akan merasa ikut bergembira. Dan ketika dia ikut merasa gembira, dia sebenarnya telah menerima energi kegembiraan itu dari anda. Dia tiba-tiba terdorong untuk tertawa, atau bahkan menangis gembira.
Dalam bentuk apakah energi kegembiraan itu terpancar ke orang dekat anda? Apakah suara anda yang keras dan menggetarkan gendang telinganya itu yang menyebabkan dia tertawa? Pasti bukan. Apakah juga karena suara anda yang mengalun merdu, sehingga ia ikut gembira. Juga bukan. Yang menyebabkan dia ikut gembira adalah karena ‘isi’ alias ‘makna’ cerita anda itu.
Dan uniknya, energi yang tersimpan di dalam makna itu tidak bisa diukur besarnya secara statis, seperti mengukur waktu, atau energi panas. Energi ‘informasi’ itu besarnya bisa berubah-ubah bergantung kepada penerimanya. Kalau si penerima berita demikian antusias dalam menanggapi berita gembira itu, maka dia akan menerima energi yang lebih besar lagi. Mungkin dia bisa tertawa sambil berurai air mata gembira, berjingkrak-jingkrak, dan seterusnya. Padahal, bagi orang lain, berita yang sama tidak menimbulkan energi sehebat itu.
Dimana kunci kehebatan transfer energi informasi itu berada? Terletak pada dua hal. Yang pertama adalah makna yang terkandung di dalamnya, sejak dari informasi itu berasal. Dan yang kedua, sikap hati si penerima informasi. Keduanya bisa saling memberikan efek perlipatan kepada energi yang dihasilkan.
Jadi kekuatan energi informasi terletak pada ‘kualitas interaksi’ antara sumber informasi, penerima, dan makna yang terkandung di dalamnya. Dan, semua itu berlangsung dengan sangat dinamis. Energi makna baru bisa diketahui ketika dipersepsi lewat sebuah interaksi dengan orang lain. Artinya, sampai sejauh ini alat ukur yang digunakan haruslah makhluk hidup, yang memiliki ‘hati’ dan jiwa sederajat dengan sumber informasi.
Jadi, secara umum kita melihat bahwa ‘aktivitas’ otak seiring dengan aktivitas Jiwa. Aktivitas jiwa bakal memancarkan energi Makna. Energi makna itu lantas memicu munculnya energi elektromagnetik di sel-sel otak. Dan berikutnya, energi elektromagnetik tersebut memunculkan jenis-jenis neurotranmister dan hormon tertentu yang terkait dengan kualitas aktivitas jiwa itu. Misalnya neurotransmiter untuk kemarahan berbeda dengan gembira, berbeda dengan sedih, malas, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: