BERSAHABAT DENGAN KEGAGALAN

Kegagalan sering kali menjadi momok yang menyeramkan dalam perjalanan hidup seseorang. Terkadang kegagalan menjadi sebuah aib yang memalukan bagi seseorang. Mereka khawatir kegagalan akan merusak harga dirinya.
Putra Thomas Edison menceritakan sebuah kisah yang sangat berkesan tentang ayahnya yang terkenal. Suatu malam di bulan Desember tahun 1014, Edison masih mengerjakan pembuatan aki nikel-besi-alkalin.. sang penemu besar ini telah menghabiskan sepuluh tahun dalam hidupnya bagi penemuan baru ini. Kegagalan berulang kali telah menyebabkan ancaman kehancuran keuangan baginya. Ia terancam bangkrut !
Pada malan tersebut, seseorang dalam pabrik Edison berteriak “Kebakaran !” dan dalam sekejap semua zat kimia, pita seluloid, dan catatan-catatan penting habis terbakar. Malam itu Edison kehilangan segalanya. Putra Edison mengenang kepanikan yang dialaminya saat ia mencari ayahnya. Apakah ia masih hidup ? jika memang masih, akankah ia hancur karena kerugian tersebut sehingga ia tidak akan pernah bisa bekerja lagi ! tiba-tiba dari kegelapan ia melihat anaknya berlari ke arahnya. Bukannya merasa sedih atau panic bahkan terpukul ! Edison malah bersemangat untuk memanggil anak, istri dan teman-teman kerjanya ”Kalian tidak akan pernah melihat kebakaran seperti ini lagi !” katanya.
Paginya Edison mengumpulkan para pegawainya dan mengumumkan “Kita akan membangun kembali !” ia kerahkan beberapa pegawainya untuk membersihkan reruntuhan sebagian lagi dikerahkannya untuk menyewa berbagai mesin yang dibutuhkan agar mereka dapat bekerja kembali. Dan seolah-olah teringat akan sesuatu, Edison bertanya kepada banyak orang itu “Omong-omong, ada yang tahu dimana kita dapat memperoleh sedikit uang ?”
Kita seharusnya meneladani Edison yang menolak tenggelam dalam kegagalan masa lalu. Sebaliknya, ia selalu berpikir tentang langkah berikutnya dimasa depan. Dalam perjalanan hidupnya seorang pemimpin tidak pernah luput dari kegagalan. Kepemimpinan dibentuk dari proses ! bukan diperoleh secara instant.
Sukses akan berhasil diraih bila kita memusatkan perhatian pada pikiran-pikiran positif serta menggunakan kata-kata dan tindakan untuk mengungkapkannya. Demikian juga sebaliknya dengan kegagalan. Kita tidak boleh membiasakan diri kita selalu berpikir negative sebab kesuksesan bergantung pada (1) Rancangan yang dibiarkan memasuki kesadaran, dan (2) database di ingatan. Bila sebuah pengalaman serupa di masa lalu menimbulkan keputusan tertentu, maka kita akan menanggapi dengan cara yang sama saat pengalaman itu muncul lagi saat ini.
Kumpulan data masa lalu itu disebut sistem keyakinan yang berfungsi sebagai kerangka berpikir sewaktu kita mengalami hal-hal baru dalam hidup dan merupakan keseluruhan program yang harus dijalani otak. Sistem keyakinan ini pada umumnya tidak lengkap dan tidak dapat diandalkan. Maka, diperlukan kegigihan untuk mencari peluang untuk membetulkan keyakinan-keyakinan dengan memutakhirkan kenyataan model mental.
Salah satu contoh kegagalan yang mungkin pernah terjadi diantaranya ketika kita memimpin, kita sering “terjebak” pada satu pola atau gaya memimpin.
Karena anda orangnya disiplin, tegas, maka ketika memimpin semua orang harus disiplin seperti anda. Anda keras kepada mereka, dan anda bertindak tegas. Bukankah pemimpin harus bertindak tegas? Ya, anda benar. Tapi itu baru satu sisi. Semakin anda keras kepada mereka, tanpa terasa mereka akan membenci anda, sehingga ketika anda tidak ada, mereka akan menari-nari kegirangan dan tidak bekerja.
Atau mungkin anda orang yang lembut hati, peduli kepada bawahan anda. Anda puji mereka, anda genangi mereka dengan fasilitas, dan nampaknya mereka begitu puas. Namun ketika anda tidak lagi memberi fasilitas atau memuji, mereka tidak lagi bekerja keras. Anda tidak tahu lagi apa yang harus anda lakukan.
Pengalaman-pengalaman yang demikian pasti sedikit banyak pernah dialami, terkadang kita gagal mengendalikan diri dan bawahan kita. Terkadang kita bahkan merasa ditolak oleh bawahan kita. Apa yang dialami oleh Edison, pada saat ia harus gagal dalam beberapa percobaannya tentunya juga berpengaruh terhadap kepercayaan bawahannya kepadanya demikian juga dengan kepercayaan dirinya sendiri apalagi keluarganya.
Namun kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, kegagalan bukanlah akhir dari segala-galanya. Seperti ada pepatah mengatakan kegagalan adalah sukses yang tertunda….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: